77 Tahun Lalu (Mengenang Peristiwa Hiroshima dan Nagasaki)

77 Tahun lalu, mengenang peristiwa pra Kemerdekaan NKRI, pada peristiwa Perang Dunia II di Jepang.

6 Agustus 1945, pukul 8.15 (waktu Jepang) Hiroshima adalah kota pertama yang dijatuhi Atomic bomb.

Lalu 9 Agustus 1945, Pukul 11.02 Atomic Bomb dijatuhkan lagi di jatuhkan di Nagasaki. Kalau di Hiroshima Atomic Bomb dinamakan The Little Boy, di Nagasaki dinamakan The Fat Man.

Saat The Little Boy dijatuhkan di Hiroshima, jiwa meninggal saat itu diperkirakan lebih dari 60.000 jiwa, dibandingkan saat The Fat Man dijatuhkan di Nagasaki, diperkirakan 73.334 jiwa meninggal. Ini berarti The Fat Man memakan l3.334 jiwa lebih banyak dari pada The Little Boy. Perhitungan jumlah jiwa yang meninggal tersebut terus bertambah, buktinya adalah dibangunnya sebuah Prasasti Hypocenter
Atomic Bomb, Tahun lalu (9 Agustus 2006) di Nagasaki.

Di prasasti tersebut ditulis 140,144 jiwa meninggal.
Banyak cerita yang sangat tragis dan menyedihkan pada saat itu, dan saya mencoba berbagi sebuah cerita dari sebuah buku kesaksian korban-korban keganasan bom Atom, the Fatman, di Nagasaki.

Judul Buku: Testimonies of the Children of Nagasaki.
English to Indonesian Language.
Title:”Living Beneath The Atomic Cloud”
(Kinoko Gumo No Shita Ni Ikiteimasu)”
Penerbit: Nagasaki Appeal Committee.
President: Dr. Tatsuichiro Akizuki.
Vice President: Dr. Riichi Kido dan Mrs. Chie Tayoshi.
Director General: Mr. Tayori Sakaguchi.
Assistant Director: Mrs. Hiroko Takahara.
Connection: Mr. Masahito Hirose, 5–4 Wakahito Machi, Nagasaki, Jepang.
Tel.(0958) 48–5415.

Buku ini berisi adalah kumpulan kesaksian dari 37 anak kecil, yang berumur 11–4 tahun setelah Bom Nagasaki 9 Agustus 1945. Keseluruhan kesaksian tersebut lalu di tulis tanpa adanya proses pengeditan yang signifikan oleh team penulis dan saya penterjemahkan ke bahasa Indonesia, ini bisa kita lihat nanti, dari alur cerita yang tidak begitu tersistematis dengan sempurna, sebagaimana umumnya anak kecil yang bercerita.

Dari ke 37 anak tersebut saya mencoba menterjemahkan beberapa kisah dari mereka,pada chapter 1 ini, saya akan menterjemahkan kesaksian dari, Fujio Tsujimoto (umur 5 Tahun), Berikut kesaksiannya:

Ketika Bom Atom telah Jatuh, waktu itu saya berada di tempat perlindungan serangan udara. Tempat itu adalah sebuah lorong pengalian sampai Jurang di pojok dari Taman bermain Sekolah dasar Yamazato.

Dan untungnya saya tidak terluka. Dan waktu itu saya berpikir yang hidup hanya 3 orang saja, yaitu Saya, Nenek dan Naoshi Tagawa. Dan yang lainnya sudah meninggal.
Saya ingat waktu alarm serangan udara berbunyi, orang dewasa dan anak2 di Ueno Machi (Kota Ueno) semuanya bersembunyi di tempat perlindungan seperti biasanya. Seorang pimpinan penjaga sipil dan sebuah pusat penolongan ada di gedung sekolah, dan disana banyak penjaga, dokter dan orang-orang lainnya. Dan para guru juga berada disana, semuanya bekerja.

Ketika tidak ada pesawat berterbangan, kelihatannya semuanya aman. lalu semua orang meninggalkan dan keluar dari tempat perlindungan tersebut. Anak-anak bermain kembali dan berteriak, semuanya di taman bermain. Semuanya sudah aman, dan para guru pergi keluar untuk santai. Taman bermain hidup kembali dengan terdengarnya suara dari orang-orang. Lalu aku mendengar suara dengung sebuah pesawat. Semua orang di taman bermain itu tdk mendengar suara pesawat tersebut, karena suasana waktu itu sangat berisik oleh suara-suara dari mereka dan mereka tidak dapat melihatnya. Aku langsung menarik nenek dan berlari ke arah tempat perlindungan.
“pesawat musuh”!!! Teriak seorang pengintai dari atap gedung sekolahan. Lalu ia memukul bell.

“Lihat..lihat”Teriak si pengintai. Semua orang langsung berlari ke tempat perlindungan. Saya waktu itu adalah orang pertama yang masuk dan berada di tempat terdalam dari tempat perlindungan. Lalu tiba-tiba…Sebuah Cahaya Kilat terlihat. Saat itu pun aku terpukul dari arah berlawanan dinding oleh karena kekuatan ledakan tersebut.

Setelah beberapa saat aku menegok ke luar dari tempat perlindungan dan saya menemukan orang-orang bertebaran di seluruh sisi taman bermain. Tanah hampir tertutup sepenuhnya dengan badan-badan manusia. Hampir kelihatan seluruhnya sudah mati dan terbaring.

Disini dan disana, dan di beberapa tempat bertebaran kaki–kaki dan lengan–lengan mereka. Beberapa orang dari mereka itu berusaha merangkak masuk sampai ke dalam tempat perlindungan. Saat itu orang banyak kesakitan. Keseluruhan kota sekitar sekolahan dikelilingi api. Rumah ku juga terbakar dengan ganas.

Kakak Laki-laki dan perempuan pada waktu itu tidak sempat lari ke tempat perlindungan, Jadi mereka ikut terbakar. Mengambil Rosario, Nenek lalu keluar dan mulai berdoa. Saya hanya duduk di depan rumah yang telah hancur dan menunggu papa dan mama.

Satu setengah jam kemudian, mama akhirnya muncul dengan lumuran darah di badannya. Sebelum saat Bom dijatuhkan saya ingat mama sedang membuat makan siang. Saya tidak akan lupa bagaimana senangnya ketika saya memegang erat mama. Kita menunggu dan menunggu kedatangan papa. Papa meninggalkan rumah pagi hari untuk bergabung menjadi anggota penolong sipil.

Walaupun ada yang masih hidup, tapi satu persatu semuanya mati dengan kesakitan. Adik Perempuan ku meninggal esok harinya. Mama juga meninggal setelah adik perempuan meninggal 1 hari kemudian. Dan akhirnya satu orang kakak laki-laki ku juga meninggal. Saya berpikir, mungkin saya juga akan meninggal, karena saya melihat banyak orang rebah menumpuk satu dengan lainnya disekitar ku di dalam tempat perlidungan dimana mereka meninggal satu persatu.

Tapi karena saya dan nenek berada di tempat terdalam di tempat perlindungan, kita rupanya tidak terkena radiasi, sampai akhirnya kita selamat. Mulai hari itu, saya dan nenek mulai melihat dan cek wajah dari jenazah-jenazah, untuk mencari papa. Kita tidak tahu apakah dia masih hidup atau mati terbakar, papa tidak kita ketemukan.

Orang-orang berhasil selamat membuat tumbukan kayu di taman bermain dan mulai mengkremasi jenazah-jenazah yang ada. Jenazah kakakku juga dikremasi. Mama juga di kremasi dan dagingnya cepat hilang berganti tulang putih, dan akhirnya tulang itu jatuh kebawah menjadi bara. Saya menangis melihat kejadian itu. Nenek juga melihat itu, dan berdoa dengan rosario.

Nenek berkata, kita akan bertemu mama di Surga. Nenek berkata, mungkin dia dulu yang akan segera ke sorga, karena saya masih kecil, dan tidak dapat melihat mama di sorga untuk waktu yang lama beberapa tahun kedepan. Maupun bermain dengan kakak laki-laki dan bicara dengan kakak perempuan ku.

Saya sekarang ada duduk di klas 4 Sekolah Dasar. Pengalaman buruk di Taman bermain itu dan sekarang semuanya sudah selesai dan banyak teman bermain dengan senang. Mereka tidak tau begitu banyak anak-anak terbunuh dan di kremasi di tempat mereka bermain itu.

Saya juga bermain dengan teman-teman tapi kadang-kadang saya tiba-tiba mengingat hari mengerikan saat itu. Ketika bermain dan ketika saya jongkok dibawah titik dimana mama dikremasi, saya sentuh tanah ditempat itu dengan jari-jari saya.

Ketika saya gali tanah sedikit lebih dalam dengan sebatang bambu, sebagian arang muncul disana. Saya melihat buram-buram gambar mama di dalam sana. Jadi ketika saya melihat seseorang yang lain, berjalan di atas tempat itu, membuat aku sangat marah.

Kapan saja saya keluar, untuk bermain ke taman bermain itu, saya mengingat hari itu. Tanah tersebut sangat tersayang bagi saya, tapi diwaktu yang sama itu membuat saya sangat sedih.

Saya akan ada di sekolah ini untuk 4 atau 5 tahun lagi, saya takjub jika saya merasakan seperti ini, setiap waktu ketika saya dating.

Nenek dan saya telah membakar tulang-tulang mama, kakak laki-laki dan saudara-saudara perempuan saya setelah pemakaman mereka. Disebuah makam, kami tancapkan sebuah salib untuk papa, tapi dia tidak berada disana.

Papa, papa, dimana kamu? Dimana kamu tinggal? kamu meninggalkan kegembiraan pagi itu., dan saat itu terakhir kami melihat mu.

Sekarang saya tinggal dengan nenek, disebuah gubuk, diatas reruntuhan. Meskipun nenek sudah berumur 60 tahun lebih, dia harus bekerja untuk hidup kami. Dia selalu pergi turun ke sungai Urakami, untuk mencabut kerang, dan pulang ke gubuk pada malam hari dan merendam semua kerang yang di dapat. Kita dapat hidup dari menjual kerang-kerang tersebut.

Kita gunakan juga untuk toko kita, dan menjual kecap asin, garam, miso (Miso adalah biji-bjian dari sayur-sayuran, di mix lalu dijadikan bahan dasar untuk membuat soup, di Jepang terkenal dengan miso soup), permen dan mainan-mainan. Papa dulu punya keahlihan yang baik di pengeboran, dan menghasilkan banyak uang. Kita gunakan untuk mengunakan pakaian bagus.

Biarkan saya kembali ke masa lalu sekali lagi…oh saya mau mama dan papa….saya mau kakak laki-laki, dan saudara-saudara perempuan saya. Jika mereka hidup!! Kita dapat hidup di rumah yang tidak bocor. Dan nenek tidak harus bekerja keras…saya dapat belajar banyak yang saya mau, saya tidak menginginkan peperangan.
Nenek selalu ke gereja setiap pagi untuk mendengarkan firman.

Dia selalu berdoa dengan sebuah rosario, dan berkata kepada ku:

“Semuanya adalah kehendak-Nya, Semuanya adalah Baik”.
Saya berharap saya punya hati murni seperti Nenek.

PEACE FOR THE WORLD

9 Agustus 2022.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *