{"id":1346,"date":"2023-07-23T22:58:29","date_gmt":"2023-07-23T15:58:29","guid":{"rendered":"https:\/\/kabarjepang.com\/?p=1346"},"modified":"2023-07-23T22:58:29","modified_gmt":"2023-07-23T15:58:29","slug":"pengaruh-hasil-pilpres-2024-terhadap-hubungan-indonesia-jepang-di-masa-depan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kabarjepang.com\/index.php\/2023\/07\/23\/pengaruh-hasil-pilpres-2024-terhadap-hubungan-indonesia-jepang-di-masa-depan\/","title":{"rendered":"Pengaruh Hasil Pilpres 2024 Terhadap Hubungan Indonesia-Jepang di Masa Depan"},"content":{"rendered":"\n<p>Pada saat ini, kita ketahui sudah ada 3 kandidat calon presiden RI untuk masa jabatan 2024-2029. Mereka adalah <strong>Anies Baswedan<\/strong>, <strong>Ganjar Pranowo<\/strong>, dan <strong>Prabowo Subianto<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari ketiga kandidat calon presiden tersebut, Anies Baswedan selalu menempati posisi paling bawah, yang hampir bisa dipastikan adalah calon presiden yang akan gugur pertama kali. Anies mempunyai range persentasenya tidak melebih 31 %, sedangkan 2 calon lainnya&#8211;yang pertama jagoan dari Partai PDI-P Ganjar Pranowo dan yang kedua Prabowo Subianto yang merupakan Ketua Umum Partai Gerindra&#8211;selalu saling bersaing, salip menyalip, persentase mereka surveinya berada di range 33% sampai 36%.<\/p>\n\n\n\n<p>Bila kita melompat jauh ke 2024, seandainya hasil pemilu pilihan presiden RI sudah keluar, apakah ada pengaruh siapa presiden Indonesia selanjutnya dengan hubungan Indonesia-Japang kedepannya?<\/p>\n\n\n\n<p>Jawabannya, YA PASTI DAN SANGAT BESAR BERDAMPAK.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika kita lihat kembali kerjasama Jepang-Indonesia khususnya dalam bidang ekonomi pada masa pemerintahan presiden Jokowi (2019- 2023), baik dari isu dan fakta di lapangan, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hubungan Indonesia-Jepang mempunyai indikasi kearah yang tidak baik atau kurang mesra. Kok bisa?<\/p>\n\n\n\n<p>Bila kita mengambil data terakhir dari Kementrian Indonesia, BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) atau di luar negeri dikenal dengan IIPC (<em>Indonesia Investment Promotion Centre<\/em>), persentase jumlah investasi Jepang di Indonesia tidak melebih 2%. Angka ini sangatlah kecil.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu hubungan Indonesia-Jepang makin tidak mesra ini ditambah kasus ketika Indonesia mengambil keputusan \u201cmenikahi\u201c RRT (Republik Rakyat Tiongkok) atau China ketika Indonesia yang sebelumnya sudah tunangan dengan Jepang dalam kasus Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Tiba-tiba Janur Kuningnya malah dengan Tiongkok. Patah hatilah Jepang.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak sampai sana saja, Indonesia merupakan negara yang menjadi salah satu negara di asia tenggara yang masuk dalam project BRI (<em>Belt and Road Initiative<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p>Kita tahu kalau proyek BRI&#8211;ataupun dikenal juga sebagai Jalan Sutra Baru (the <em>New Silk Road<\/em>)&#8211;merupakan proyek besar Tiongkok, yang ditangkap beberapa pihak sebagai proyek Tiongkok dalam membangun kekuatan ekonominya di beberapa negara khususnya negara berkembang, dengan memberikan bantuan pemodalan investasi infrastuktur ke negara-negara tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan dari sana disimpulkan sebagai strategi besar Tiongkok untuk menguasai dan mengkontrol negara-negara tersebut melalui pendekatan ekonomi. Sri Lanka dianggap sebagai salah satu contohnya, negara yang kolaps karena tidak bisa membawa hutangnya kepada negara Tiongkok.<\/p>\n\n\n\n<p>Menilik dari contoh di atas, siapa yang nantinya akan menjadi presiden Indonesia ke depannya pastinya sangat mempengaruhi hubungan Indonesia-Jepang. Dari sisi kepentingan Jepang sendiri, pastinya bisa dipredisksi kalau mereka akan mendukung calon presiden yang lebih pro ke mereka; yang bisa membawa keuntungan bagi Jepang.<\/p>\n\n\n\n<p>Keuntungan disini artinya Jepang mau Indonesia lebih memprioritaskan Jepang untuk kerjasamanya seperti dalam hal investasi, di bandingkan negara lain seperti Tiongkok.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan demikian pertanyaan besarnya adalah, Siapa calon presiden yang lebih &#8216;condong&#8217; ke Jepang?<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk individu yang mengikuti perkembangan geopolitik, tentunya jawaban tersebut sudah cukup jelas. Kuncinya adalah, Jepang merupakan kawan baik dengan the barat, dengan Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n<p>Siapapun yang pro ke barat, tentunya juga akan lebih pro ke Jepang daripada Tiongkok. Dan dari ketiga calon Presiden, kita tahu kalau Prabowo Subianto adalah individu yang lebih pro barat daripada Tiongkok bila dibandingkan dengan Ganjar Pranowo. <\/p>\n\n\n\n<p>Jadi, bisa disimpulkan kalau Jepang sepertinya akan lebih cenderung &#8216;condong&#8217; ke Prabowo Subianto untuk memimpin Indonesia ke depannya, dibandingkan dengan Ganjar Pranowo.<\/p>\n\n\n\n<p>Kok bisa?<\/p>\n\n\n\n<p>Sosok Ganjar Pranowo, saat ini terlihat sangat lemah, karena banyak ditampilkan bahwa Ganjar Pranowo adalah Petugas Partai PDI-P. Dan ada kemungkinan bahwa kebijakan Ganjar Pranowo nanti kiblatnya cenderung akan ke Tiongkok. Sedangkan Prabowo Subianto, bila kita lihat riwayat hidupnya, lebih berkiblat ke Barat.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu bagaimana Anies? kemanakah kiblatnya? Entahlah, kita sulit menganalisa manusia yang satu ini. Jika ada dari semua pembaca yang bisa memberikan analisis bahwa Anies Baswedan akan berkiblat kemana? Tolong tulis jawabannya di kolom komentar. Terima kasih.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada saat ini, kita ketahui sudah ada 3 kandidat calon presiden RI untuk masa jabatan 2024-2029. Mereka adalah Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto. Dari ketiga kandidat calon presiden tersebut, Anies Baswedan selalu menempati posisi paling bawah, yang hampir bisa dipastikan adalah calon presiden yang akan gugur pertama kali. Anies mempunyai range persentasenya tidak &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/kabarjepang.com\/index.php\/2023\/07\/23\/pengaruh-hasil-pilpres-2024-terhadap-hubungan-indonesia-jepang-di-masa-depan\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Pengaruh Hasil Pilpres 2024 Terhadap Hubungan Indonesia-Jepang di Masa Depan<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":1347,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":""},"categories":[91],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kabarjepang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1346"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kabarjepang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kabarjepang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarjepang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarjepang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1346"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kabarjepang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1346\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1348,"href":"https:\/\/kabarjepang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1346\/revisions\/1348"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarjepang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1347"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kabarjepang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1346"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarjepang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1346"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarjepang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1346"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}